Tiga Skill Ini Wajib Ada Saat Kamu Bikin Startup Digital

Teknologi informasi telah menciptakan sejarah tersendiri dalam kehidupan manusia. Pada satu dekade terakhir, setidaknya kita dihadapkan pada gaya hidup yang melibatkan teknologi digital dalam keseharian.

Startup digital adalah salah satu teknologi yang diciptakan untuk membantu manusia dalam memecahkan permasalahan yang ada. Selain berbentuk aplikasi, banyak pula startup digital yang dibangun untuk menghadirkan hiburan dalam bentuk game yang menarik.

Startup digital biasanya dibangun oleh sebuah tim yang terdiri dari beberapa keahlian. Mereka saling bekerjasama serta saling menterjemahkan ide mereka menjadi sebuah aplikasi yang dapat memecahkan solusi bagi masyarakat.

Nah, bagi Anda yang ingin membangun sebuah startup digital, setidaknya wajib memiliki tiga orang dengan keahlian berbeda-beda berikut ini. Ketiga orang dengan keahlian berbeda ini akan berkolaborasi dengan fokus pada skillnya masing-masing. Kolaborasi tersebut nantinya akan menjadikan tim dapat mewujudkan startup sesuai dengan ide dasar maupun permasalahan yang ada.

Pertama adalah hacker.

Hacker adalah seseorang yang memiliki keahlian dalam pemrograman. Ada istilah coding dalam dunia pemrograman tersebut. Orang ini wajib memiliki keahlian dalam hal membuat program, menganalisa script hingga dapat bekerja dan terbaca oleh sistem operasi baik komputer maupun gadget lain.

Dalam kehidupan sehari-hari, hacker ini disebut programmer atau developer. Sebuah perusahaan yang telah maju biasanya akan mempekerjakan sejumlah programmer dengan dipimpin oleh seorang CTO atau Chief Technology Officer.

Kedua adalah hipster.

Hipster ini bekerja dengan fokus pada desain visual. Ketika sebuah aplikasi dibuat, hipster ini harus bisa menterjemahkan ide dasar dalam sebuah desain grafis yang sesuai. Melalui hasil diskusi, desainer ini akan membuat tampilan yang menarik, user friendly dan enak dilihat.

Hipster wajib fokus pada upaya memberikan user experience yang baik. Orang ini akan memastikan aplikasi yang dibuatnya akan hits karena desain atau user interface-nya bagus.

Ketika menghadapi logika yang disodorkan oleh programmer, hipster harus dapat membuatnya menjadi mudah dan nyaman dilihat. Tak jarang antara programmer dan desainer grafis terlibat argumen yang sengit hanya karena mempertahankan prinsip keduanya.

Hal tersebut wajar karena kedua orang ini akan bekerja dengan fokus yang nyaris berbeda. Meskipun desain grafis juga dapat dilakukan oleh hacker dalam bentuk kode-kode script untuk lay out.

Ketiga adalah hustler.

Hustler adalah orang yang harus cakap menterjemahkan startup yang dibuat untuk bisa diterima oleh pasar atau user. Hustler ini juga disebut sebagai marketer atau public relation. Dalam perusahaan yang sudah berkembang, hustler ini akan dipecah menjadi beberapa bagian seperti marketing, public relation, corporate communication, marketing communication atau semacamnya. Bagian-bagian itu dipimpin oleh seorang CMO atau Chief Marketing Officer.

Selain itu, hustler ini kerap menjadi igniter dalam sebuah pembangunan startup karena ia lebih peka terhadap permasalahan sosial. Ketika perusahaan ingin membuat sebuah studi kasus di lapangan, tim dari hustler ini lebih cocok karena instingnya lebih sensitif.

Dari segi marketing, hustler ini juga yang mengkomunikasikan hasil karya kepada para stakeholder baik itu user, mitra, media maupun investor. Hustler ini wajib memiliki kemampuan public speaking serta networking yang bagus. Dia bisa bekerja di bawah tekanan serta akan mengalami stress apabila target akuisisi produk tidak tercapai. Namun, orang ini juga wajib memiliki kemerdekaan dalam mengaktualisasikan dirinya di lapangan.

Ketika startup sedang dibangun, hustler juga kerap memberi masukan tentang bagaimana tampilan startup tersebut sebaiknya dibuat karena dialah yang akan menyampaikan hasil karya kepada user. Dia harus memastikan bahwa startup yang dihasilkan harus user friendly, nyaman dan sesuai dengan kebutuhan stakeholder.

Dalam karir perusahaan, hustler biasanya lebih cenderung cocok menjadi CEO karena dia akan sering muncul dalam wawancara media dan namanya akan menjadi identitas brand aplikasi yang dibangun. Dengan networking yang bagus, ia akan mudah bergaul dengan berbagai kalangan.

Nah, hacker, hipster dan hustler  tersebut sebaiknya ada sejak awal. Tim berisi tiga orang itu kerap disebut sebagai The Dream Team. Sebagian besar startup dibangun dengan keterbatasan termasuk keterbatasan jumlah tim. Meski begitu, seyogyanya setiap keahlian dapat menterjemahkan ide-ide awal dalam visualisasi masing-masing. Selamat membentuk tim. [anto]